• SMA NEGERI 5 PALANGKA RAYA
  • We Learn to be A Leader

Literasi Membuka Makna Numerasi Menajamkan Logika

Masihkah Kita Salah Memahami Literasi dan Numerasi?

Dalam setiap langkah pendampingan di sekolah binaan, ada satu hal yang selalu saya bawa dan saya sampaikan. Bukan karena ini hal baru, tetapi justru karena hal ini sering dianggap sudah dipahami, padahal belum sepenuhnya dimaknai.

Di banyak pertemuan dengan kepala sekolah dan guru, saya sering diam sejenak sebelum berbicara. Lalu dalam hati saya bertanya,
"Apakah literasi masih kita pahami sekadar membaca"
"Apakah numerasi masih kita anggap hanya bagian dari matematika"

Pertanyaan itu sederhana, tetapi jawabannya tidak selalu sesederhana yang kita bayangkan.

Selama ini, tanpa disadari, pemahaman kita sering berhenti di permukaan. Literasi seolah cukup dengan membaca, dan numerasi seolah selesai di angka. Padahal, keduanya jauh lebih dalam dari itu.

Literasi adalah kemampuan memahami dan memaknai informasi. Numerasi adalah kemampuan membaca angka dan data untuk berpikir logis dan sistematis. Keduanya berjalan bersama, membentuk cara seseorang melihat dan memahami dunia.

Saya kembali bertanya dalam diri,
"Jika literasi hanya berhenti pada membaca, apakah kita sedang menyiapkan pemakna atau hanya pembaca"
"Jika numerasi hanya berhenti pada hitungan, apakah kita sedang membentuk pemikir atau sekadar penghafal rumus"

Di sinilah saya semakin yakin bahwa literasi dan numerasi bukan sekadar kemampuan, tetapi fondasi berpikir.

Literasi dan numerasi membantu peserta didik dalam mengambil keputusan yang tepat. Dengan kemampuan ini, mereka belajar memahami informasi secara utuh, mengelola data sederhana, serta berpikir logis dan sistematis dalam menghadapi berbagai situasi kehidupan.

Namun kemudian saya kembali merenung,
"Apakah literasi dan numerasi sudah benar benar hidup dalam keseharian peserta didik"
"Ataukah masih kita batasi hanya di ruang kelas"

Sesungguhnya, literasi dan numerasi tidak hanya dipelajari di sekolah. Kegiatan membaca di rumah, berdiskusi, dan menghitung dalam aktivitas sehari hari adalah bagian dari penguatan keduanya.

Apa yang kita tanamkan di sekolah seharusnya tumbuh dalam kehidupan. Tidak berhenti di buku. Tidak selesai di tugas.

Di sekolah, literasi dan numerasi perlu dihidupkan sebagai budaya belajar. Guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi menuntun cara berpikir. Kepala sekolah menjaga agar semangat ini tetap berjalan dan tidak padam di tengah rutinitas.

Dan di titik ini, saya perlu menegaskan dengan jelas.

Literasi dan Numerasi Bukan Milik Satu Mata Pelajaran Ini Tanggung Jawab Kita Semua

Selama kita masih berpikir bahwa literasi hanya tugas guru Bahasa Indonesia dan numerasi hanya tugas guru Matematika maka selama itu pula kita sedang membatasi cara berpikir peserta didik

Saatnya berhenti membagi peran yang keliru dan mulai menyadari bahwa setiap guru adalah penggerak literasi dan numerasi dalam setiap pembelajaran

Karena di setiap kelas ada makna yang harus dipahami dan logika yang harus ditumbuhkan

Tidak boleh lagi ada pemahaman bahwa literasi adalah tanggung jawab guru Bahasa Indonesia dan numerasi adalah tugas guru Matematika.

Pemahaman seperti ini bukan hanya keliru, tetapi berpotensi menghambat tumbuhnya kemampuan berpikir peserta didik secara utuh.

Literasi dan numerasi adalah tanggung jawab semua guru, pada semua mata pelajaran, di setiap proses pembelajaran.

Setiap guru mengajarkan cara memahami.
Setiap guru melatih cara berpikir.

Jika kita masih membatasi peran ini, maka tanpa sadar kita juga sedang membatasi cara berpikir peserta didik.

Dan ini tidak bisa dibiarkan.

Sebagai pengawas, saya menyadari bahwa mendampingi sekolah dalam penguatan literasi dan numerasi bukan sekadar tugas. Ini adalah keniscayaan.

Karena melalui penguatan inilah kita sedang menyiapkan peserta didik untuk menjadi pembelajar yang cakap, mandiri, dan siap menghadapi masa depan.

Setiap kali saya selesai melakukan pendampingan, saya sering kembali bertanya dalam hati,
"Apakah hari ini ada yang berubah"
"Walau hanya cara pandang"

Saya tidak menunggu perubahan besar. Saya percaya, perubahan selalu dimulai dari kesadaran kecil.

Namun kesadaran itu harus terus dihidupkan.
Harus terus ditegaskan.

Sampai tidak ada lagi yang memaknai literasi sekadar membaca.
Sampai tidak ada lagi yang memahami numerasi sekadar hitungan.

Tetapi keduanya benar benar menjadi cara berpikir, cara memahami, dan cara mengambil keputusan dalam kehidupan.

 

Palangka Raya, 27 Maret 2026

 

RUSNANIE
(Koordinator Pengawas SMA Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah}

 

Tulisan Lainnya
Suara Hati Pengawas Sekolah: Dari Kegelisahan Menuju Pembelajaran Bermakna melalui Kelas Digital Huma Betang

Dalam setiap langkah saya sebagai Pengawas Sekolah, ada ruang-ruang sunyi yang sering kali justru paling banyak mengajarkan saya tentang makna pembelajaran. Saya datang ke sekolah. Mem

28/03/2026 09:52 - Oleh Administrator - Dilihat 24 kali
Tegur Sapa Budaya Positif di SMAN 5 Palangka Raya

Anthea Mujha Wawey Dalam kehidupan modern, nilai-nilai kemanusiaan sering terlupakan. Namun, di tengah gelombang globalisasi yang terus meningkat, SMAN 5 Palangka Raya membuktikan bahw

04/01/2026 22:18 - Oleh HUMAS - Dilihat 144 kali
Tegur Sapa Budaya Positif di SMAN 5 Palangka Raya

Anthea Mujha Wawey Dalam kehidupan modern, nilai-nilai kemanusiaan sering terlupakan. Namun, di tengah gelombang globalisasi yang terus meningkat, SMAN 5 Palangka Raya membuktikan bahw

04/01/2026 22:16 - Oleh HUMAS - Dilihat 144 kali
Refleksi Guru BK di Akhir Semester

Akhir semester selalu menjadi ruang hening bagi guru BK untuk menoleh ke belakang. Bukan sekadar menghitung jumlah layanan yang terlaksana, tetapi merenungi setiap proses yang telah dil

19/12/2025 09:18 - Oleh HUMAS - Dilihat 173 kali
Merawat Semangat Belajar di Tengah Pandemi

Pembinaan terhadap sekolah-sekolah untuk mengefektifkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) di tengah pandemi Covid-19 tetap dilakukan. Meskipun tidak bertatap muka langsung, tatap virtual me

03/02/2021 16:16 - Oleh HUMAS - Dilihat 104 kali