• SMA NEGERI 5 PALANGKA RAYA
  • We Learn to be A Leader

Suara Hati Pengawas Sekolah: Dari Kegelisahan Menuju Pembelajaran Bermakna melalui Kelas Digital Huma Betang

Dalam setiap langkah saya sebagai Pengawas Sekolah, ada ruang-ruang sunyi yang sering kali justru paling banyak mengajarkan saya tentang makna pembelajaran.

Saya datang ke sekolah. Memasuki kelas. Menyapa guru dan peserta didik. Semua berjalan sebagaimana mestinya. Guru mengajar. Peserta didik belajar.

Namun di dalam hati, selalu ada suara yang pelan tetapi terus hadir.
"Apakah pembelajaran ini benar-benar hidup"
"Apakah ini sudah menyentuh dunia peserta didik hari ini"

Saya tidak sedang mencari kekurangan. Saya hanya sedang mencoba memahami.

Semakin sering saya berada di sekolah binaan, semakin saya merasakan bahwa ada sesuatu yang belum sepenuhnya terhubung. Peserta didik kita hidup dalam dunia yang cepat, visual, dan digital. Sementara pembelajaran yang kita hadirkan belum selalu berjalan seirama dengan dunia mereka.

Kegelisahan itu tumbuh perlahan.

Terlebih ketika saya harus memantau sekolah binaan yang berada jauh di luar kota. Ada jarak yang tidak selalu bisa saya jangkau. Pada saat-saat seperti itu, saya sering terdiam, lalu bertanya pada diri sendiri.
"Apakah guru-guru di sana sudah menyiapkan pembelajaran dengan baik"
"Apakah asesmen yang mereka lakukan sudah tepat"
"Apakah anak-anak benar-benar mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna"

Saya tidak selalu memiliki jawabannya.

Dan di situlah saya belajar bahwa menjadi Pengawas bukan hanya tentang memastikan, tetapi juga tentang merasakan tanggung jawab yang tidak selalu bisa disentuh secara langsung.

Lalu perlahan, saya menemukan ruang yang membantu saya menjawab kegelisahan itu.

Ketika saya mulai mengenal Kelas Digital Huma Betang, saya tidak melihatnya sebagai sekadar sistem. Saya melihatnya sebagai ruang yang mempertemukan.

Ruang yang mempertemukan saya dengan sekolah binaan tanpa dibatasi oleh jarak.

Melalui ruang itu, saya dapat melihat bagaimana perencanaan pembelajaran yang mereka susun, bagaimana modul ajar disiapkan, serta bagaimana proses belajar itu berlangsung. Saya dapat memberi masukan, memberi penguatan, dan tetap hadir dalam proses, meski tidak selalu secara fisik.

Di dalam hati saya berkata.
"Saya tetap bisa dekat, meski tidak selalu hadir"

Perasaan itu sederhana, tetapi sangat berarti.

Saya juga mulai memahami bahwa di dalam Kelas Digital Huma Betang, ada sistem yang saling terhubung. Sumber belajar dapat diakses kapan saja. Proses penilaian dan laporan terkelola dalam satu ruang. Guru, siswa, sekolah, hingga pengawas berada dalam satu ekosistem yang saling terkoneksi.

Dan di dalam hati saya kembali berbisik.
"Inilah jembatan yang selama ini saya cari"

Dan perlahan, di tengah perjalanan itu, saya mulai merasakan bahwa kegelisahan yang selama ini saya bawa tidak lagi sepenuhnya tinggal utuh.

Sebagian besar telah terjawab.

Melalui program digitalisasi pendidikan yang dihadirkan, baik melalui platform Kelas Digital Huma Betang maupun kehadiran papan tulis interaktif di setiap ruang belajar, saya melihat satu perubahan nyata mulai tumbuh.

Bukan hanya pada sistemnya, tetapi pada harapan yang mulai hidup kembali.

Di dalam hati, saya kembali berbisik.
"Ternyata kita sedang bergerak ke arah yang benar"

Di sisi lain, saya juga menyaksikan hadirnya papan tulis interaktif di ruang-ruang kelas. Bagi saya, itu bukan sekadar alat. Ia adalah peluang.

Peluang untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih hidup. Peluang untuk membuat peserta didik lebih terlibat. Peluang bagi guru untuk menyampaikan materi dengan cara yang lebih dekat dengan dunia peserta didik.

Ketika saya melihat papan tulis interaktif mulai digunakan di kelas, saya kembali bertanya dalam hati.
"Akankah ini mampu menghidupkan pembelajaran"
"Akankah ini menjadi ruang baru bagi kreativitas guru dan peserta didik"

Dan saya percaya, jawabannya ada pada kita.

Namun di tengah semua itu, saya juga diingatkan pada satu hal penting.

Tidak ada program yang langsung sempurna. Tidak ada sistem yang tanpa kekurangan. Selalu ada ruang untuk diperbaiki. Selalu ada hal yang perlu disempurnakan.

Dan di dalam hati, saya kembali berkata.
"Jika masih ada kekurangan, itu bukan untuk dihakimi"
"Jika masih ada kelemahan, itu bukan untuk disalahkan"

Tetapi untuk dipahami. Untuk dicari jalan keluarnya. Untuk diperbaiki bersama.

Karena setiap kekurangan adalah ruang belajar. Setiap kelemahan adalah kesempatan untuk bertumbuh.

Di titik ini, saya semakin memahami bahwa yang paling dibutuhkan bukan hanya sistem yang baik, tetapi kerja kolaboratif yang saling menguatkan.

Bukan berjalan sendiri-sendiri, tetapi berjalan bersama.
Bukan saling menilai, tetapi saling mendukung.
Bukan mencari siapa yang salah, tetapi mencari apa yang bisa diperbaiki.

Saya kembali berbisik pada diri sendiri.
"Kita tidak harus selalu benar"
"Tetapi kita harus terus belajar menjadi lebih baik"

Karena saya menyadari bahwa apa pun bentuk sistem dan fasilitas yang ada, semuanya akan kembali pada satu hal.

Kesadaran.

Kesadaran untuk menggunakan. Kesadaran untuk belajar. Kesadaran untuk berubah.

Sebagai Pengawas Sekolah, saya tidak berada di luar proses ini. Saya ada di dalamnya. Mendampingi, menguatkan, dan berjalan bersama guru-guru di sekolah binaan.

Saya belajar bahwa perubahan tidak harus selalu besar.

Di dalam hati saya berkata.
"Tidak harus sempurna, tetapi harus bergerak"
"Tidak harus serentak, tetapi harus bersama"

Hari ini, saya tidak lagi melihat media digital sebagai sesuatu yang asing.

Saya melihatnya sebagai denyut.

Denyut yang menghidupkan pembelajaran.

Denyut yang membuat proses belajar tidak hanya berlangsung, tetapi benar-benar bermakna.

Dan melalui perjalanan ini, saya semakin memahami bahwa pembelajaran yang bermakna tidak lahir dari banyaknya materi yang disampaikan, tetapi dari seberapa dalam peserta didik mengalami proses belajar itu sendiri.

Sebagai Pengawas Sekolah, saya tidak lagi sekadar ingin memastikan bahwa pembelajaran berlangsung.

Saya ingin memastikan bahwa pembelajaran itu hidup.

Hidup dalam setiap interaksi. Hidup dalam setiap pertanyaan. Hidup dalam setiap pengalaman belajar yang benar-benar dirasakan oleh peserta didik.

Dan di dalam diam, saya sering berbicara pada diri sendiri.
"Apakah yang kita lakukan hari ini akan benar-benar membekas pada mereka"
"Ataukah hanya akan lewat tanpa jejak tanpa makna"

Pertanyaan itu tidak pernah benar-benar pergi.

Namun hari ini, saya tidak lagi berdiri dalam kegelisahan yang sama.

Saya berdiri dalam kesadaran.

Bahwa kita sedang berada di titik yang menentukan.

Di titik di mana kita tidak bisa lagi berjalan seperti biasa.
Di titik di mana kita tidak bisa lagi menunda perubahan.
Di titik di mana kita harus memilih untuk benar-benar menghidupkan pembelajaran.

Dan di dalam hati, saya kembali berbisik.
"Kita tidak kekurangan kemampuan"
"Kita hanya tidak boleh kehilangan kesadaran"

Karena pada akhirnya, bukan teknologi yang akan menentukan arah pendidikan kita.

Tetapi cara kita memaknainya.

Bukan sistem yang akan membuat pembelajaran menjadi hidup.

Tetapi kesungguhan kita dalam menghidupkannya.

Lalu saya kembali bertanya, lebih dalam dari sebelumnya.
"Jika kita sudah diberi ruang, sudah diberi kesempatan, sudah diberi jalan"
"Masihkah kita memilih untuk diam"

Dan di situlah saya menemukan satu keyakinan yang tidak bisa saya abaikan.

Bahwa perubahan bukan lagi sesuatu yang menunggu.

Perubahan sedang terjadi.

Dan kita hanya punya dua pilihan.

Menjadi bagian dari yang menghidupkan
atau menjadi bagian dari yang perlahan tertinggal

Sebagai Pengawas Sekolah, saya memilih untuk tetap berjalan.

Menemani. Menguatkan. Menjaga.

Agar pembelajaran tidak kehilangan nyawanya.

Agar setiap kelas tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi menjadi ruang tumbuh.

Dan di dalam hati, saya kembali menegaskan.
"Saya tidak akan berhenti menjaga nyala itu"

Nyala pembelajaran.
Nyala harapan.
Nyala masa depan anak-anak kita.

 

Palangka Raya, 28 Maret 2026

RUSNANIE (Rose)
(Koordinator Pengawas SMA Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah)

Tulisan Lainnya
Literasi Membuka Makna Numerasi Menajamkan Logika

Masihkah Kita Salah Memahami Literasi dan Numerasi? Dalam setiap langkah pendampingan di sekolah binaan, ada satu hal yang selalu saya bawa dan saya sampaikan. Bukan karena ini hal bar

28/03/2026 10:02 - Oleh Administrator - Dilihat 21 kali
Tegur Sapa Budaya Positif di SMAN 5 Palangka Raya

Anthea Mujha Wawey Dalam kehidupan modern, nilai-nilai kemanusiaan sering terlupakan. Namun, di tengah gelombang globalisasi yang terus meningkat, SMAN 5 Palangka Raya membuktikan bahw

04/01/2026 22:18 - Oleh HUMAS - Dilihat 144 kali
Tegur Sapa Budaya Positif di SMAN 5 Palangka Raya

Anthea Mujha Wawey Dalam kehidupan modern, nilai-nilai kemanusiaan sering terlupakan. Namun, di tengah gelombang globalisasi yang terus meningkat, SMAN 5 Palangka Raya membuktikan bahw

04/01/2026 22:16 - Oleh HUMAS - Dilihat 144 kali
Refleksi Guru BK di Akhir Semester

Akhir semester selalu menjadi ruang hening bagi guru BK untuk menoleh ke belakang. Bukan sekadar menghitung jumlah layanan yang terlaksana, tetapi merenungi setiap proses yang telah dil

19/12/2025 09:18 - Oleh HUMAS - Dilihat 174 kali
Merawat Semangat Belajar di Tengah Pandemi

Pembinaan terhadap sekolah-sekolah untuk mengefektifkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) di tengah pandemi Covid-19 tetap dilakukan. Meskipun tidak bertatap muka langsung, tatap virtual me

03/02/2021 16:16 - Oleh HUMAS - Dilihat 104 kali